Mengubah haluan pola pikir yang baru untuk generasi bangsa
Setiap orang memiliki sebuah
bahkan rentetan mimpi besar, entah itu memainkan peran besar sebagai tokoh yang
dipuja banyak orang misalnya dokter, pengusaha sukses, direktur atau mungkin
menjadi pekerja disebuah perusahaan besar milik luar negeri dengan jabatan yang
cukup mengagumkan. Siapa yang tidak mau untuk menolak peluang-peluang besar itu
didalam hidup setiap orang? Terlebih lagi dengan adanya dorongan untuk
meningkatkan status sosial mereka di masyarakat. Semua itu wajar karena pada
dasarnya mereka ingin dan berusaha mendapatkan hidup yang baik serta bermakna.
Menjadi sukses adalah harapan
setiap orang, setiap orang pun berhak memiliki mimpi besar. Biasanya hal ini
ditanamkan pada setiap individu sejak mereka masih kecil, umumnya
ditengah-tengah keluarga. Orang tua menginginkan putra-putrinya menjadi tokoh
yang hebat, mereka ingin putra-putrinya kelak akan menjadi lebih baik lagi dari
mereka yang sekarang. Apa yang membuat orang tua selalu mengharapkan anaknya
menjadi orang yang sukses, biasanya hal ini menyangkut dengan kualitas hidup
yang berkaitan dengan ekonomi. Ekonomi menjadi indikator untuk seseorang dapat
dinilai berhasil atau tidak. Umumnya masyrakat menganggap orang yang sukses
adalah orang yang kaya raya –punya mobil, rumah besar dan mewah, harta
berlimpah, dll- dan selalu seperti
itulah pola pikir masyarakat yang ada di negeri ini -Indonesia-.
Tapi apakah kita sadar hanya
dengan indikator ekonomi saja orang tersebut dikatakan sebagai orang sukses?
Lalu apakah itu yang dinamakan keberhasilan? Bagi saya pribadi, keberhasilan adalah
keadaan dimana saya membawa diri saya pada tercapainya impian dan cita-cita
saya selama ini. Saya memiliki mimpi yang bisa dibilang kebanyakan orang adalah
mimpi yang mustahil, adalah niat saya untuk berpartisipasi membangun negara ini
menjadi lebih baik lagi, memberikan kontribusi nyata dengan mengabdi untuk
republik ini. Saya ingin merubah sistem hari ini menuju sistem yang lebih baik
dikemudian hari. Terasa sulit untuk dibayangkan memang, tapi itulah mimpi yang
ingin saya kejar.
Jika dilihat keseluruhan, mimpi
setiap orang berbeda-beda, ini dapat dilihat pada metode lingkungan keluarga
mendidik putra-putrinya. Namun ditengah krisis yang melanda republik ini,
seharusnya setiap keluarga mendidik, menanamkan pola pikir, termasuk men-doktrine anak dengan asumsi bahwa pada
dasarnya mereka hidup untuk memberi manfaat kepada orang lain secara nyata
terlepas dari ego untuk menempati
puncak kelas atas ekonomi dalam bermasyarakat. Mereka harus diberi arahan yang
jelas bahwa mereka harus menumbuhkan potensinya masing-masing dan mewujudkannya
untuk kemudian hari mengabdikan dirinya untuk negara. Kenapa harus negara?
Penyebabnya adalah ketika kita berusaha membantu orang lain ataupun secara luas
bangsa kita sendiri –yang nyatanya terpuruk- maka kita dapat melakukan langkah
awal dalam bentuk mengabdi kepada negara sendiri, dengan bermodal potensi yang
bervariasi yang dimiliki putra-putri bangsa untuk menyumbangkan karyanya dan
berkontribusi untuk negaranya.
Pengabdian ini pun harus dibarengi
dengan menumbuhkan nasionalisme, patriotisme, sikap berdikari agar setiap
putra-putri bangsa secara rela berjuang untuk negaranya demi kepentingan orang
banyak. Kita harus berani bertindak besar, tidak ada yang bilang bahwa setiap tindakan
besar tak memiliki rintangan. Tindakan ini memiliki rintangan yang lebih berat
daripada hanya mengejar kesuksesan secara individual, bukan berarti kesuksesan
individual tidak berarti namun alangkah baiknya jika kita berjuang bukan atas
dasar menjunjung derajat orang tua kita saja ataupun dipuja banyak orang,
tetapi dengan niatan tulus menjunjung bangsa ini sehingga bukan hanya satu atau
dua orang saja yang tersenyum melainkan semua orang dapat tersenyum bebas.
Jadi, kita perlu perluas lagi
pandangan cita-cita kita dengan melihat dari sudut pandang orang banyak dan
bukti rasa terima kasih pada ibu pertiwi. Percuma jauh-jauh sekolah,
sepandai-pandainya sekolah tapi pada akhirnya bekerja mengabdi pada kaki
perusahaan bangsa lain ataupun kerja di negeri orang, mengabdi di negeri orang
dengan godaan hujan emas dan berlian namun bangsa kita sendiri, ditanahnya
sendiri masih terpuruk dalam kemelaratan yang mereka buat sendiri. Kita harus
berani untuk bangkit, orang tua juga harus mengubah metode dalam konteks
memotivasi anak untuk berjuang demi masa depan dan bangsanya juga.
Jangan lupakan bahwa kita adalah
bangsa yang besar, bangsa yang layak untuk maju dan setara dengan yang lain.
Buktikan pada dunia, bahwa kita yang akan menorehkan kembali catatan emas
republik ini, biarkan nama-nama kita hari ini berkobar hingga menerobos garis
waktu untuk diketahui anak cucu kita dan anak cucunya lagi. Hari ini kita turun ke medan perang
bersama-sama, agar anak cucu kita tak perlu merasakan penderitaan yang sama
lagi, agar anak cucu kita mampu meneruskan kobaran api dari mereka yang menjaga
republik ini terus berjaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar