Kamis, 25 Februari 2016

Haluan pola pikir yang baru untuk generasi bangsa

Mengubah haluan pola pikir yang baru untuk generasi bangsa



Setiap orang memiliki sebuah bahkan rentetan mimpi besar, entah itu memainkan peran besar sebagai tokoh yang dipuja banyak orang misalnya dokter, pengusaha sukses, direktur atau mungkin menjadi pekerja disebuah perusahaan besar milik luar negeri dengan jabatan yang cukup mengagumkan. Siapa yang tidak mau untuk menolak peluang-peluang besar itu didalam hidup setiap orang? Terlebih lagi dengan adanya dorongan untuk meningkatkan status sosial mereka di masyarakat. Semua itu wajar karena pada dasarnya mereka ingin dan berusaha mendapatkan hidup yang baik serta bermakna.
Menjadi sukses adalah harapan setiap orang, setiap orang pun berhak memiliki mimpi besar. Biasanya hal ini ditanamkan pada setiap individu sejak mereka masih kecil, umumnya ditengah-tengah keluarga. Orang tua menginginkan putra-putrinya menjadi tokoh yang hebat, mereka ingin putra-putrinya kelak akan menjadi lebih baik lagi dari mereka yang sekarang. Apa yang membuat orang tua selalu mengharapkan anaknya menjadi orang yang sukses, biasanya hal ini menyangkut dengan kualitas hidup yang berkaitan dengan ekonomi. Ekonomi menjadi indikator untuk seseorang dapat dinilai berhasil atau tidak. Umumnya masyrakat menganggap orang yang sukses adalah orang yang kaya raya –punya mobil, rumah besar dan mewah, harta berlimpah, dll-  dan selalu seperti itulah pola pikir masyarakat yang ada di negeri ini -Indonesia-.
Tapi apakah kita sadar hanya dengan indikator ekonomi saja orang tersebut dikatakan sebagai orang sukses? Lalu apakah itu yang dinamakan keberhasilan? Bagi saya pribadi, keberhasilan adalah keadaan dimana saya membawa diri saya pada tercapainya impian dan cita-cita saya selama ini. Saya memiliki mimpi yang bisa dibilang kebanyakan orang adalah mimpi yang mustahil, adalah niat saya untuk berpartisipasi membangun negara ini menjadi lebih baik lagi, memberikan kontribusi nyata dengan mengabdi untuk republik ini. Saya ingin merubah sistem hari ini menuju sistem yang lebih baik dikemudian hari. Terasa sulit untuk dibayangkan memang, tapi itulah mimpi yang ingin saya kejar.
Jika dilihat keseluruhan, mimpi setiap orang berbeda-beda, ini dapat dilihat pada metode lingkungan keluarga mendidik putra-putrinya. Namun ditengah krisis yang melanda republik ini, seharusnya setiap keluarga mendidik, menanamkan pola pikir, termasuk men-doktrine anak dengan asumsi bahwa pada dasarnya mereka hidup untuk memberi manfaat kepada orang lain secara nyata terlepas dari ego untuk menempati puncak kelas atas ekonomi dalam bermasyarakat. Mereka harus diberi arahan yang jelas bahwa mereka harus menumbuhkan potensinya masing-masing dan mewujudkannya untuk kemudian hari mengabdikan dirinya untuk negara. Kenapa harus negara? Penyebabnya adalah ketika kita berusaha membantu orang lain ataupun secara luas bangsa kita sendiri –yang nyatanya terpuruk- maka kita dapat melakukan langkah awal dalam bentuk mengabdi kepada negara sendiri, dengan bermodal potensi yang bervariasi yang dimiliki putra-putri bangsa untuk menyumbangkan karyanya dan berkontribusi untuk negaranya.
Pengabdian ini pun harus dibarengi dengan menumbuhkan nasionalisme, patriotisme, sikap berdikari agar setiap putra-putri bangsa secara rela berjuang untuk negaranya demi kepentingan orang banyak. Kita harus berani bertindak besar, tidak ada yang bilang bahwa setiap tindakan besar tak memiliki rintangan. Tindakan ini memiliki rintangan yang lebih berat daripada hanya mengejar kesuksesan secara individual, bukan berarti kesuksesan individual tidak berarti namun alangkah baiknya jika kita berjuang bukan atas dasar menjunjung derajat orang tua kita saja ataupun dipuja banyak orang, tetapi dengan niatan tulus menjunjung bangsa ini sehingga bukan hanya satu atau dua orang saja yang tersenyum melainkan semua orang dapat tersenyum bebas.
Jadi, kita perlu perluas lagi pandangan cita-cita kita dengan melihat dari sudut pandang orang banyak dan bukti rasa terima kasih pada ibu pertiwi. Percuma jauh-jauh sekolah, sepandai-pandainya sekolah tapi pada akhirnya bekerja mengabdi pada kaki perusahaan bangsa lain ataupun kerja di negeri orang, mengabdi di negeri orang dengan godaan hujan emas dan berlian namun bangsa kita sendiri, ditanahnya sendiri masih terpuruk dalam kemelaratan yang mereka buat sendiri. Kita harus berani untuk bangkit, orang tua juga harus mengubah metode dalam konteks memotivasi anak untuk berjuang demi masa depan dan bangsanya juga.

Jangan lupakan bahwa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang layak untuk maju dan setara dengan yang lain. Buktikan pada dunia, bahwa kita yang akan menorehkan kembali catatan emas republik ini, biarkan nama-nama kita hari ini berkobar hingga menerobos garis waktu untuk diketahui anak cucu kita dan anak cucunya lagi.  Hari ini kita turun ke medan perang bersama-sama, agar anak cucu kita tak perlu merasakan penderitaan yang sama lagi, agar anak cucu kita mampu meneruskan kobaran api dari mereka yang menjaga republik ini terus berjaya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar